Wawancara Dengan Kh. Mahfudz Ridwan, Lc

Pelita pada edisi Agustus ini melalui salah seorang reporternya berkesempatan mengunjungi kediaman Kyai HajiMahfudz Ridwan Pengasuh Pondok Pesantren Edimancoro yang  terletak di Gedangan Salatiga untuk melakukan bincang-bincang seputar makna kemerdekaan.

Tema ini diambil berkaitan dengan momen peringatan kemerdekaan Indonesia.

Kiai yang  dekat dengan Abdurahman Wahid atau Gusdur ini memang dikenal sebagai Kiai yang mempunyai wawasan luas, egaliter dan toleransi yang tinggi terhadap keragaman umat beragama yang ada pada masyarakat. Dalam hal itu, beliau terlibat aktif dalam gerakan dialog antar agama bersama tokoh agama, akademisi dan tokoh  masyarakat untuk menyatukan umat dalam rangka agama sebagai rahmat bagi segala umat.

Dengan kiprahnya ini tidak heran jika banyak politisi yang sering datang padanya untuk meminta doa restu serta dukungannya dalam setiap kontestasi politik baik daerah maupun pusat. Pada kesempatan ini pelita mencoba memperbincangkan arti dan makna kemerdekaan, bagaimana pandangan beliau mengenai kemerdekaan? Selanjutnya, berikut hasil  bincang-bincang sekaligus pandanganya mengenai kemerdekaan.    

Menurut Kiai Mahfud apa arti kemerdekaan itu?

 Arti kemerdekaan sesungguhnya dari dulu hingga sekarang itukan tetap sama, dasarnya juga sama. Kemudian yang membedakan adalah kebutuhan dan kepentingan manusia-manusia yang hidup di era kemerdekaan ini. Menurut saya kemerdekaan sebenarnya adalah hak segala cipta yang ada di muka bumi ini. Apapun itu sebenarnya berhak dan mempunyai kebebasan. Kebebasan itu sendiri sebenarnya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Artinya jika ada penjajahan atau penindasan itu namanya menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya maka harus dihentikan. Misalnya sekarang yang ramai terjadi adalah masalah pengrusakan hutan, harusnya tidak boleh merusak hutan untuk kepentingan sendiri. Itu namanya hutan telah dirampas kemerdekaanya untuk tumbuh dan berkembang sesuai fungsinya di alam ini. Ya misalnya melakukan penebangan sumber hutan harus semestinya dan digunakan untuk kepentingan umat.

Pada masa terdahulu kemerdekaan itu diartikan sebagai terbebas dari penjajahan benarkah begitu?

Ya arti kemerdekaan pada masa yang lalu memang yang paling dekat adalah terbebas atau merdeka dari penjajahan yang sedang berlangsung di bumi kita. dan yang namanya penjajahan pada waktu itu adalah semua hal dijajah. Tanahnya dikuasai, hutanya dikuasai, manusianya dikuasai pemerintahan dikuasai dan segala hal dikuasai. Maka perilaku seperti ini bisa dikatakan melakukan sesuatu bukan pada tempatnya, mestinya tidak demikian, mestinya semua harus bebas sesuai harkat dan martabatnya tapi dalam penjajahan atau penindasan kan harkat, martabat kedaulatan itu kan dibatasi  atau dihilangkan.

Untuk saat ini Saya melihat sebenarnya lebih dari merusak lagi dari mungkin penjajahan pada waktu dulu. Kalau dulu kan jelas penjajahan itu di lakukan oleh negeri asing dengan melakukan penguasaan terhadap sagala lini aset bangsa. Bisa dikatakan kalau dulu penjajahan itu dari luar kalau sekarang penjajahan itu justru oleh kita sendiri. Justru pengrusakan, penindasan, pembunuhan dan lain sebagainya di lakukan oleh bangsa kita sendiri, disamping luar yang terus menggerogoti bangsa kita dengan berbagai cara berbeda, bukan perang lagi.

Ya kemudian makna kemerdekaan itu seperti apa saat ini? Kalau seperti itu.

Itu kan sebenarnya kewajiban negara, ketika sudah bebas maka negara mempunyai tanggung jawab untuk mengatur dan membentuk suatu negara yang makmur sejahtera serta berdaulat. Negara tidak boleh menindas kepada rakyatnya. Jadi kewajiban pemerintah itu adalah untuk menyejahterakan bangsa, memakmurkan rakyatnya kalau pemerintah tidak melaksanakan itu, artinya pemerintah juga menjajah rakyatnya. Jadi menurut saya makna kemerdekaan sebenarnya belum bisa dirasakan oleh masyarakat atau rakyat kita.

Karena kebebasan itu berkaitan dengan demokrasi maka sampai saat ini bentuk demokrasi seperti apa yang telah dirasakan oleh rakyat. Demokrasi hanya sebatas yang bersifat di permukaan saja. Misalnya, rakyat sudah bisa rame-rame menurunkan Soeharto pada waktu itu, sistem pemerintahan berubah masyarakat sekarang ini sudah bisa menentukan siapa pemimpin yang di kehendakinya baik di daerah maupun pusat dengan pemilihan langsung. Meskipun ini sudah bisa dikatakan lebih baiklah namun substansinmya belum tercapai yaitu kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Kemudian harus bagaimana memaknai kemerdekaan dalam situasi sekarang ini?

Ya kita harus mengusahakan, harus ikhtiar dan terus mencoba bergerak melakukan upaya untuk mengsejahterakan umat, menghilangkan kebodohan dan lain sebagainya. Mestinya itu harus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain pemerintah tentunya sebagai wadah yang bertanggung jawab untuk mengsejahterakan rakyatnya. Saya menilai tanggung jawab pemerintah belum benar-benar serius untuk memikirkan rakyatnya. Lihat saja masalah pendidikan yang sebenarnya sudah menjadi amanat dalam UU Dasar kita, namun tidak dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah. Apa lagi soal kesejahteraan masyarakat.

Saat ini kita terus  melihat angka kemiskinan nasional yang besar jumlahnya dan itu cenderung meningkat. Pengangguran bertambah setiap tahunnya karena tidak tersedianya lapangan kerja yang memadai, belum lagi soal harga kebutuhan yang terus meningkat. Bagaimana rakyat bisa mencukupi kebutuhanya kalau perangkatnya tidak tersedia, kalau mereka tidak bisa bekerja dan jaminan penghasilan yang cukup nah ini. Malah sekarang ini banyak proyek yang dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mempunyai kekuasaan dan tak menghiraukan kesulitan masyarakat bahkan akibat kerusakan lain yang ditimbulkanya. Inikan namanya tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kita sering mendengar seberapa besar World Bank menanamkan uangnya untuk membiayai kita, tapi apa hasilnya apa yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk rakyatnya dengan uang itu, malah kita yang kena getahnya untuk membayar hutang juga kan.

Bapak menilai bagaimana sebenarnya wawasan kebangsaan kita selama ini ?

Wawasan kebangsaan atau identitas kebangsaan kita saat ini bisa dikatakan bukan bergeser akan tetapi sudah hilang. Lihat saja apa yang terjadi saat ini pada masyarakat kita, generasi muda kebanyakan. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu kalau saya amati, dulu saya melihat rambu-rambu pada nilai-nilai yang ada pada masyarakat kita masih terjaga dengan baik. Saat ini saya melihat sudah berubah, gaya hidup bebas, materialistis sudah menjadi trend. Budaya timur yang dikatakan santun – ramah kini hampir hilang. Ini contoh yang bisa kita lihat sehari-hari., hal ini sebenarnya yang dikhawatirkan oleh para tokoh terdahulu mereka yang ikut andil dalam upaya kemerdekaan. Kenapa kita kehilangan rasa nasionalisme yang sesungguhnya?

Banyak hal yang terjadi saat ini yang mengancam kedaulatan, misalnya penggadaian pulau-pulau yang semakin marak terjadi. Bisa kita katakan bahwa saat ini dominasi luar sudah kuat bukan pada hal-hal yang sifatnya material dan ekonomi, wilayah teritorial atau pemerintahan akan tetapi lebih dari itu adalah dominasi budaya yang sebenarnya sangat merusak jiwa dan melunturkan nasionalisme serta identitas kebangsaan kita. Jadi moralitas bangsa dan agama  ini sudah  memprihatinkan. Ya mestinya saat ini kita harus merenung dan memikirkan kembali apa dan bagaimana memperlakukan kemerdekaan atau konsep kemerdekaan itu. Mestinya kan ada batas batas seperti apa kemerdekaan ini di artikan. Namun sebenarnya yang harus dilakukan adalah bagaimana kemerdekaan itu dimaknai dan bagaimana kemerdekaan itu harus diisi dan diimplementasikan.

Nasionalisme yang kita artikan selama ini adalah sebatas pada patriotisme atau cinta pada tanah air dan mempertahankan atau membela tanah air jika diganggu dari pihak luar atau lebih besarnya adalah  menjaga kedaulatan bangsa. Namun selain itu nasionalisme adalah sebuah pengakuan dan keyakinan atas jati diri kebangsaan yang sudah ada sejak dulu hingga sekarang dan ini berkaitan dengan mempertahankan kedaulatan serta identitas kebangsaan. Kalau dilihat dari sisi negara bangsa, kita akan menghadapi tantangan yang lebih berat kedepan pada bangsa Indonesia. Kedepan situasi akan berubah dan yang berperan adalah negara-negara besar diluar yang memang mempunyai kepentingan terhadap geopolitik negara tertentu. Lembaga atau organisasi transnasional disebarkan untuk memecah dan mencengkeram kedaulatan bangsa kita. Adu dombapun dilakukan hingga menyebabkan jatuhnya korban dan peperangan. Misalnya paradigma Amerika dalam memerangi terorisme.

Kita sebenarnya resah, kalangan ulama yang mempunyai tanggung jawab terhadap basis umat resah dengan hal ini. Organisasi keagamaan di Indonesia yang berbasis akar rumput kuat yaitu NU dan Muhammadiyah resah, karena saat ini banyak sekali idiologi atau organisasi transnasional yang cenderung radikal dan ektrem yang sebenarnya tidak sesuai degan identitas keIndonesiaan. Ada tesis tentang perbenturan peradapan yang terjadi antara timur dan barat itu diartikan sebagai akibat pertemuan budaya karena gejala global, namun sebenarnya itu adalah sebuah kepentingan yang diolah sedemikian rupa untuk menghancurkan dan menguasai, semuanya adalah karena kepentingan.

Sehingga Kedepan apa yang harus dilakukan?

Secara ekonomi rasanya berat karena secara langsung maupun tidak langsung aset bangsa ini sudah terjual habis  baik itu pulau, sumber daya alam bahkan tempe atau tape pun hak patenya sudah dimiliki oleh luar. Kita mempunyai apa sekarang ini?  Air diladang sendiri saja sebentar lagi kita harus beli. Ya kedepan berat kita, apalagi pada sektor pertanian. Jadi penjajahan itu semakin menusuk pada saraf-saraf kehidupan kita, itu lebih memprihatinkan dari pada dulu. Saya menaruh harapan pada generasi muda saat ini untuk bergerak dan menghadang gejala ini.

Ya tentunya yang bisa dilakukan adalah membentuk pardigma baru terhadap kehidupan kedepan, tentu dengan bekal keilmuan yang kuat, pendidikan dan persatuan kalau mungkin masuk pada wilayah pemerintahan untuk mengendalikan pemerintahan. Kenapa harapan itu pada pemuda karena generasi diatasnya saat ini sudah teracuni oleh kepentingan-kepentingan yang belum tentu atas nama rakyat atau umat namun lebih pada orientasi diri sendiri. Apapun itu baik itu kiai, pendeta atau pastur atau romo semuanya tanpa kepentingan. Sehingga kedepan kepentingan untuk bangsa inilah yang harus dikedepankan.