Menu Utama
Pusat Layanan
| Tim Penyelamat Gerak Cepat Tidak Disiapkan |
|
|
|
| Berita |
|
”Pada setiap bencana nasional selalu kita lihat peran tim gerak cepat negara asinglah yang dominan menangani penyelamatan korban,” kata Bagus Takwin, Manajer Riset Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Senin (12/10) di Jakarta. Bagus mewakili Universitas Indonesia yang saat ini bekerja sama dengan empat universitas lainnya merumuskan buku panduan standar penyelamatan gerak cepat pada berbagai bencana, termasuk gempa. Empat universitas lainnya adalah Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Airlangga. ”Tim gerak cepat ini sebaiknya umum. Satu atau dua militer bisa masuk,” ujar Bagus. Deputi Bidang Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jan Sopaheluwakan mengatakan, tim penyelamat gerak cepat khusus penyelamatan korban tertimbun akibat gempa tidak pernah disiapkan pemerintah. Penggunaan teknologi secara umum untuk mendeteksi korban sudah tersedia, misalnya dari teknik geologi pertambangan menggunakan perbedaan kerapatan (density contrast). ”Kerapatan beton, udara, dan tubuh manusia bisa cepat diidentifikasi. Atau dengan teknologi khusus untuk penanganan korban gempa yang sudah maju,” ujar Jan. Tim kaji cepat Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Priyadi Kardono di Padang ketika dihubungi Kompas dari Jakarta mengatakan, BNPB saat ini baru memiliki Tim Kaji Cepat Sektoral dari Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Sosial, Departemen Kesehatan, dan lainnya. Namun, tim ini belum bisa diharapkan bekerja sebagai tim penyelamat gerak cepat seperti tim negara-negara asing. Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Sutrisno mengatakan, tim penyelamat gerak cepat 15 negara telah bekerja pada hari kedua sampai hari kelima setelah gempa di Padang. Ada 78 anjing pelacak digunakan. Sutrisno mengakui, peralatan khusus untuk tim penyelamatan korban gempa secara cepat tidak dimiliki oleh tim penyelamat dari Tanah Air. Priyadi mengemukakan, BNPB sudah berinisiatif membeli berbagai peralatan khusus yang dibutuhkan tim gerak cepat, termasuk helikopter. ”Sebenarnya tak terkendala dana,” ujarnya. Bagus Takwin mengatakan, selain tuntutan kesiapan tim penyelamat gerak cepat, juga dibutuhkan pendidikan pemberdayaan masyarakat menghadapi bencana yang konsisten. ”Bangunlah gedung yang tahan bencana dan latih terus pola evakuasi,” kata Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta Eko Teguh Paripurno. (Kompas) |







