Menu Utama
Pusat Layanan
| Koperasi BMJ, Upaya Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan |
|
|
|
| Berita |
|
”Basis kelompok di desa dengan anggota lebih banyak perempuan menjadi kekuatan bagi koperasi sebagai upaya meningkatkan dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Dengan anggota hampir sebagian besar perempuan menjadi bagian penting yang membuat koperasi akan berjalan, karena berbagai sektor usaha kecil lebih banyak dijalankan oleh perempuan”. Ungkap pengurus KSU BMJ Ismail Alhabib dalam workshop Design Managemen KSU Bhineka Manunggal Jaya pada 28 Oktober 2009 di Boyolali.
Workshop tersebut diikuti oleh seluruh anggota koperasi yang merupakan anggota dari 19 KSM, serta pengurus koperasi. Workshop itu sendiri bertujuan untuk merumuskan managemen koperasi serta prasarat lain untuk berjalannya sebuah koperasi. Hadir pula Kepala dinas Koperasi dan UKM kabupaten Boyolali Mulyono yang juga memberikan pengarahan tentang perkoperasian serta peluang-peluang koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyat. Sejak didirikan setahun yang lalu, koperasi ini telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan usaha kelompok usaha perempuan melalui KSM yang telah lama berjalan, usaha membangun jaringan untuk menguatkan koperasi sebagai basis perjuangan penguatan ekonomi rakyat telah dilakukan. Akan tetapi diakui bahwa koperasi ini belum bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ismail Alhabib yang sekaligus direktur LKTS menyatakan bahwa LKTS juga melakukan penguatan terhadap koperasi sebagai bagian komitmen untuk penguatan kelompok ekonomi mikro di Boyolali sebagai bagian untuk meningkatkan keberdayaan KSM melalui koperasi yang sedang dibangun. Sementara Muhammad Amin pengawas KSU BMJ menegaskan bahwa BMJ harus mampu menunjukan eksistensinya melalui kegiatan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Keunggulan yang di miliki oleh BMJ adalah adanya basis anggota koperasi yang berlatar belakang pedesaan dan perempuan pelaku usaha kecil serta perangkat sebuah koperasi yang sudah lengkap. Berbeda dengan koperasi lain yang harus membangun koperasi dari nol dan tanpa basis sebelumnya. ”koperasi maupun badan usaha sejenis berdasarkan data di Jawa Tengah hanya sekitar 70 % yang eksis dan beroperasi, selebihnya hanya mempunyai nama akan tetapi tidak jelas pengurus dan kegiatanya. Ini saat untuk membuktikan eksistensi BMJ sehingga akan terlihat jelas identitasnya” katanya. Selain itu menurutnya yang menarik dari koperasi ini adalah prinsip pendampingan dan pemberdayaan yang dilakukan sejak awal, sejak rintisan KSM yang berbasis perempuan dan pedesaan. ”koperasi ini harus kita pertajam dengan penguatan ekonomi desa dengan basis mayoritas perempuan, karena disanalah sebenarnya makna pemberdayaan dan penguatan ekonomi rakyat. Koperasi juga merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan posisi tawar dan basis ekonomi rakyat” tambahnya. Kepala dinas Koperasi dan UKM Boyolali, Mulyono mengharapkan koperasi BMJ dapat menjadi penggerak untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat khususnya desa sebagaimana yang diperjuangkan. Dia menilai banyak koperasi yang justru berpaling dan tidak berorientasi pada penguatan ekonomi rakyat akan tetapi lebih pada profit oriented.
|







