Menu Utama
Pusat Layanan
| APBD Boyolali 2010; Potret Pemerintahan “Swalayan” |
|
|
|
| Berita |
|
Demikian disampaikan Thontowi Jauhari dalam Seminar dengan tajuk “Wajah APBD 2010 Kabupaten Boyolali; Kenapa Belanja untuk Rakyat selalu Kecil” terselenggara atas kerja sama LKTS – PATTIRO dan LAKPESDAM NU pada 16 Februari 2010 di Boyolali. Menurutnya, pada struktur APBD terdapat ketimpangan akut antara Belanja Tidak Langsung (BTL) dan Belanja LAngsung (BL), yaitu BTL Rp 817 Milyar (83,86 %) dan BL sebesar Rp 147 milyar (16,14 %). Hal ini berarti kapasitas fiscal pemerintahan Kabupaten Boyolali selalu menurun, prosentase Belanja Langsung tahun 2008 sebesar 37.93 % tahun 2009 menjadi 27.45 % dan turun lagi tahun 2010 menjadi 16.14 %. Padahal idealnya prosentase Belanja Langsung minimal 50 % dari struktur APBD, dan minimal 70 % dari BL adalah untuk belanja modal. “yang lebih memprihatinkan lagi, BL 147 milyar tersebut jika ditelusuri hanya 49 milyar atau 33,5 % yang menjadi komponen belanja modal, sisanya 85 milyar atau 58.3 % untuk belanja barang dan jasa serta 12 milyar atau 8.16 % untuk belanja pegawai. Artinya banyak kegiatan makan – minum, jalan – jalan, workshop dan sebagainya yang dilakukan dari pada pembiayaan yang langsung bersentuhan untuk rakyat” tambahnya. |







